Sabtu, 16 Juli 2016

MARKETING-Menangkap EGO

“Your most unhappy customers are your greatest source of learning.” —Bill Gates, Microsoft co-founder

“Wonder what your customer really wants? Ask. Don’t tell.” —Lisa Stone, BlogHer co-founder and CEO

99% tantangan org bisnis biasanya tantangan dlm dirinya sendiri. Termasuk menaklukan EGO nya.

Kebanyakan start-up fokus ke produk (ego) bukan pada memberi manfaat ke customer/pelanggan.

Nah, bagaimana mau jualan kalau kita tdk tau apa yg diinginkan customer? Ya tinggal nanya... Gitu aja koq repot.. Hehe.. :)

Kunci jualan laris adalah mengubah habit/kebiasaan dari pelanggan. Biasa belanja/makan di toko/resto A, kmdn "dipindah" ke toko kita. MENGUBAH "habit/kebiasaan" pembeli, shg dia mau repeat order dan repeat order lagi, bahkan meREFERENSIkan produk/bisnis kita.

Bgmn mengubah SELERA atau KENYAMANAN pelanggan toko/resto A ke toko/resto kita?

Jawabannya bisa sangat variatif, karena level kenyamanan org berbeda2. Semakin hari, pola konsumtif org adlh EGO yg ingin dilayani.

Diibaratkan EGO adlh tangan yg mengepal, maka seperti halnya tangan kita yg sama2 mengepal, tdk bisa menangkap apa2. Lain halnya jika salah satu tangan tsb terbuka. Maka dia bisa menangkap tangan yg mengepal.

Jika EGO diJODOHkan dgn EGO, yg terjadi adlh tabrakan. Untuk itu JODOHKAN Ego customer dgn "tangan yg terbuka". Jika segmen yg Anda bidik adlh org2 yg concern terhadap harga, maka TANGKAP dgn harga.

Sering kali yg terjadi adalah, membidik org yg menginginkan pelayanan, tp yg ditawakan adlh harga "TERMURAH sedunia", masakan "ter-UENAAAAKK sedunia".

Jika EGOnya adlh servis, maka TANGKAP dgn servis/pelayanan yg baik. Acara/event Komunitas MOGE, yaa layani dgn nuansa MOGE.

By : Dania Setiabudi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar